Kamis, 26 Juli 2012

Tradisi Barong NgeLawang

Perayaan hari raya Galungan di Bali biasanya diwarnai dengan tradisi barong ngelawang. Selain sebagai hiburan warga desa di hari raya Galungan, tradisi ini juga untuk memohon kepada Tuhan agar warga desa diberi kerahayuan atau keselamatan dari serangan wabah dan unsur-unsur negatif lainnya.

Sejak pagi sekehe (kelompok) Barong Ngelawang sudah berkeliling, menari di depan pintu (lawang) satu rumah warga ke depan pintu rumah warga lainnya. Suasana menjadi semakin meriah ketika warga banjar secara bergiliran ngupah (memberikan bayaran) secara sukarela kepada para penari barong bangkung tersebut.

Beberapa menabuh gamelan yang terdiri dari gong, kempur, kendang dan cengceng. Tak ada gamelan seperti untuk pengiring tari legong karena barong ngelawang ini termasuk minimalis. Barongnyapun hanya terdiri dari topeng yang rahangnya bisa digerakkan. Kemudian ada bulu bulu dari sejenis pandan yang dikeringkan di lehernya. Sedangkan badan sang barong ngelawang terbuat dari kain loreng mirip bulu macan.
Walau sederhana pengiring, tapi penari yang terdiri dari penari tunggal bertopeng, dan juga penari barongnya melakukannya dengan sangat serius.

Rata rata mereka menguasari tari baris dan tari topeng sebelum terjun membawa barong itu ngelawang.
Setiap rumah yang dikunjungi barong ngelawang menyiapkan sesajen berupa canang yang diberi sesari atau uang diatasnya. Ada yang mengisinya dengan 5000 rupiah saja tapi ada juga yang sampai 10.000 rupiah.
Untuk pentas di setiap rumah yang mereka masuki setidaknya 3 tarian yang mereka persembahkan. Pertama sang penari bertopeng akan bercanda dengan barong, kemudian barong beraksi dengan menggerakkan mulutnya, kemudian mereka melakukan gerakan manis mengambil sesari yang diberikan oleh tuan rumah.
Uang yang dikumpulkan selama ngelawang bukan merupakan masalah penting, yang paling hakiki adalah, anak anak itu bisa sejak dini mewarisi budaya tabuh dan tari yang ada di kampung nya.

Di tempat lain seperti di Ubud, Payangan, Sibang yang merupakan pusat barong ngelawang di Bali tidak mau kalah untuk melestarikan tradisi Ngelawang ini. Kelompok – kelompok ngelawang ini tak hanya berkeliling keluar masuk rumah di kampung asalnya tapi juga ada yang ngelawang sampai ke Kuta, Sanur dan Nusa Dua.

Di tempat wisata itu memang tidak ada kelompok barong ngelawang, tapi penduduknya tentu merindukan kehadiran kesenian yang bersahaja ini.

“Ngelawang ke tempat wisata semacam itu tidak dilakukan setiap saat, bisa tiga tahun sekali, karena perjalanannya jauh, harus menyewa kendaraan pengangkut pengiring dan penari,” tutur Wayan Sadra, ketua barong ngelawang di Sibang Bali.

Mereka beranggapan penduduk yang tidak ada barong ngelawangnya juga berhak menikmati suasana barong yang gemulai keluar masuk rumah untuk mengusir wabah penyakit. Disetiap jalan yang mereka lewati terutama di kawasan wisata, yang menyambut barong ngelawang bukan hanya penduduk tapi juga bule yang berkunjung pada hari itu. Walaupun kerapkali menyaksikan tarian barong keris di Batubulan, barong ngelawang di hari Kuningan memberikan nuansa yang lain dari biasanya.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar