Selasa, 03 Juli 2012

Gangsing

GANGSING itu permainan rakyat. Melafalkannya kadang berbeda, ada yang menyebutnya gangsing, ada yang menyebutnya gasing. Di Bali, gangsing digemari di desa-desa sekitar Gunung Batukaru, baik yang masuk wilayah Buleleng maupun Tabanan. Di Karangasem ada juga beberapa desa yang populer dengan gangsingnya.


Gangsing yang diadu dalam pertandingan, ada juga di Malaysia. Penggemarnya selain penduduk ras Melayu, juga penduduk imigran India. Saya tak tahu apakah di pedesaan India ada juga permainan gangsing. Namun, jika kita memasuki toko yang khusus menjual permainan anak-anak, gangsing elektronik sudah banyak dijajakan. Ada yang dihidupkan dengan baterai, ada yang "disetrum" dengan listrik terlebih dahulu. 

Tetapi, gangsing kelas gedongan ini hanya untuk menghibur anak-anak, ada sinar berpendar-pendar yang sangat indah kalau gangsing diputar dalam kegelapan. Gangsing hiburan kelas rakyat banyak dijual di sekitar Candi Prambanan dan Candi Borobudur, terbuat dari bambu. Kalau gangsing diputar menimbulkan suara merdu. Ini membuktikan bahwa gangsing sudah mendunia.

Namun, gangsing di Buleleng dan Tabanan, betul-betul disebut "gangsing aduan" bukan sekadar permainan yang hanya enak dilihat. Gangsing untuk pertandingan ini dibuat dari kayu yang tahan banting, umumnya kayu jeruk atau kayu lemo. Kalau kayu yang mudah retak, dipukul sekali saja bisa hancur. Dalam pertandingan gangsing, taruhannya bukan cuma menang kalah dari sudut lamanya berputar, tetapi juga dari hancur tidaknya gangsing lawan.

Gangsing dari kayu pilihan saat ini pasarannya termurah Rp 50 ribu. Itu di kampung saya, Pujungan. Di sini ada paling tidak lima orang perajin gangsing aduan dengan peralatan yang sudah modern. Langganannya datang dari berbagai desa. Kenapa harga gangsing mahal, karena bahan bakunya mahal. Kalau bahan bakunya dari kayu kopi (biasanya dipakai oleh anak-anak) sebuah gangsing bisa diperoleh dengan harga Rp 5 ribu.
Apa yang menarik dari magangsingan ini? Seperti bermain golf, daya tariknya adalah cara memukul. Jika main golf kita harus konsentrasi memukul bola agar bisa mendekati hole (lubang) tujuan, bermain gangsing harus pintar mencari celah memukul gangsing lawan. Pukulan yang bagus adalah gangsing lawan mati putarannya, gangsing kita berputar kencang. Ini ada tekniknya, melihat dengan cepat ke arah mana putaran gangsing lawan, dan seberapa banyak ikatan harus diberikan pada gangsing kita. Kalau arah putaran gangsing lawan tidak kita ketahui dan kita salah memukul, bisa-bisa gangsing lawan makin keras putarannya dan gangsing kita tak mau berputar. Istilahnya, tidak dapat jigad.

Itu baru dari sudut pukul-memukul. Yang sesungguhnya lebih penting adalah sportivitas pemain. Ketaatan pemain pada aturan sangat diutamakan, meskipun peraturan itu di setiap  "musim gangsing" bisa berubah. Apalagi peraturan di setiap desa. Karena itu sebelum dimulai pertandingan, dipilih seorang wasit yang mengawasi aturan main. Konon, aturan main gangsing sekarang ini mengacu kepada aturan di Johor, Malaysia, memakai sistem grup dan nilai diperoleh dari sekian kali menang berturut-turut.
Bayangkanlah kalau aturan tidak dihormati dan terjadi kericuhan. Gangsing itu di ujung yang berputar ada besinya. Kalau sampai ada perkelahian dan gangsing dilemparkan ke kepala orang, bisa mampus orang yang kena.

Menang kalah dalam adu gangsing (magangsingan) bukanlah aib. Kelompok yang menang (biasanya satu kelompok ada 6 orang), termasuk suporternya, bisa berteriak-teriak gembira. Kelompok yang kalah, juga termasuk pendukungnya, bisa mengejek dengan lelucon yang justru ditujukan ke kelompoknya sendiri. Permainan ini biasanya tidak ada taruhan. Saya sebut biasanya, karena konon ada saja orang bertaruh kecil-kecilan. Magangsingan ada unsur olah raganya, jadi jauh beda dengan sabungan ayam.
Masalah utama dari permainan rakyat ini adalah tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi seperti di Malaysia, di mana adu gangsing menjadi salah satu atraksi wisatawan dan banyak pejabat Malaysia suka magangsingan. Di Bali, adu gangsing muncul murni dari masyarakat dan hidup matinya sangat tergantung pada arena adu gangsing. Lapangan gangsing tidak boleh berumput, tidak boleh berdebu, tetapi tidak boleh juga diperkeras dengan semen, misalnya. Lapangan gangsing yang baik adalah tanah yang kental.
Karena itu, di pedesaan lereng Gunung Batukaru, musim gangsing terjadi pada musim kemarau, persis ketika datangnya panen kopi. Kopi dijemur dari pagi sampai menjelang sore. Pada saat kopi ditimbun, bekas lahan menjemur kopi itu dipakai bermain gangsing. Sekarang, buah kopi sudah berkurang, penjemuran kopi pun tidak banyak. Di mana orang bermain gangsing?

Ada penyebab lain lagi. Dulu rumah-rumah punya halaman bersama, tidak ada sekat-sekat pekarangan. Halaman itu jadi luas, setidaknya memanjang. Tetapi berkat "kemajuan zaman", rumah di pedesaan pun sekarang ditata dengan sistem gang dan lorong, pekarangan disekat, sehingga tak ada lagi halaman bersama. Untuk ke luar ke jalan besar harus melewati gang. Bayangkan kemudian, betapa sulitnya mencari tempat untuk bermain gangsing. * Putu Setia

2 komentar:

  1. Minta info nama2 Pengrajin Gangsingnya Pak Putu... tiang ada minat untuk bikin....
    Kadung ada lakar niki :)

    BalasHapus
  2. Minta info nama2 Pengrajin Gangsingnya Pak Putu... tiang ada minat untuk bikin....
    Kadung ada lakar niki :)

    BalasHapus